REGIONAL





Program Kredit UMKM Kukar Menjadi Pola Nasional

Minggu Ini Bupati Presentasikan di Kementerian Perindustrian

TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Rita Widyasari diundang Direktorat Jendral (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian untuk memaparkan konsep program kredit bagi Usaha Kecil Menengah dan Kopeasi (UKMK) yang di kembangkan Pemkab Kukar melalui program Gerbang Raja untuk para petani singkong.

“Kami tanggal 3 (Agustus, Red.) ini diundang oleh Kementerian Perindustrian, khususnya Dirjen IKM untuk membicarakan dan mempresentasikan konsep-konsep (Program UKMK, Red.) itu,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar, Totok Heru Subroto kemarin.

Diundangnya Bupati Kukar ini terkait dengan program peningkatan kesejahteraan petani singkong yang dikembangkan Pemkab Kukar saat ini dengan pola kemitraan. Kemitraan dimaksud adalah kerjasama yang terdiri dari tiga pihak yang disebut dengan Manajemen Bersama.

“Ketiga pihak tersebut diantarnaya perusahaan atau investor selaku penjamin pasar, perbankan selaku penyedia modal, dan terakhir ada pihak koperasi yang dimana sebagai wadah bernaungnya para petani singkong tesebut. Pemkab sebagai pembinanya,” ujar Totok.

Jika memungkinkan, lanjut Totok, program yang dikembangkan Pemkab Kukar ini akan diangkat menjadi program nasional untuk pengebangan budidaya singong di seluruh Indonesia. Ketertarikan pusat ini didasari pola kemitraan ini lebih mengutamakan kesejahteraan petani singkong dari pada pola investasi murni yang dikembangkan brbagai daerah selama ini. Dimana, petani hanya menjadi buruhnya saja dan menerima upah dari pihak investor, sementra nvestor mendapatkan keuntungan besar.

“Jika memang memungkinkan (meyakinkan pihak Kementerian Perindustrian, Red.) maka akan diangkat pola nasional untuk pengembangan usaha kecil menengah budidaya sinkong. Dan kemungkinan juga ada dana APBN masuk dalam model kita ini,” terang Totok.

Ditegaskan Totok, pada dasarnya model tersebut tidak hanya dikembangkan pada komoditas singkong saja. Pasalnya program yang dikembangkan Pemkab Kukar bermuara pada kesejahteraan masyarakat Kukar pada umumnya dengan di fokuskan pemberian kredit pada usaha mikro, kecil dan menengah, kelompok-kelompok usaha tani, perikanan perkebunan dan lain se bagainya, dengan mengembangkan pola jaminan pasar melalui investor.

“Kalau di Kukar sendiri sebenarnya tidak hanya singkong saja, program yang dikembangkan bermuara pada kesejahteraan masyarakat Kukar pada umumnya dengan pemberian kredit pada UKMK, Koperasi, kelompok-kelompok usaha tani dan yang lain juga tidak masalah, cuma pola yang dikembangkan tetap dengan jaminan pasar melalui investor,” pungkasnya.

Sebelumnya Kukar direncanakan menjadi daerah percontohan budidaya singkong untuk seluruh daerah di Indonesia. Hal ini diungkapkan salah satu nara sumber yang juga Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Pusat, DR Marwah Daud Ibrahim, dalam Workshop Program UKMK dan Pengembangan Budidaya Tanaman Singkong, yang diprakarsai Bappeda Kukar, Selasa (17/7) lalu. (ale)



Kembangkan Bisnis Tapioka di Kukar

BPD Kaltim Tenggarong Kucurkan Kredit UMKMK Rp 38 Juta Per Hektare


TENGGARONG - Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim Cabang Tenggarong kembali mengucurkan kredit. Kali ini, giliran petani singkong yang berhimpun dalam Koperasi Serba Usaha (KSU) Nur Hikmah.

Pimpinan BPD Kaltim Cabang Tenggarong Viky Pujo Rahmanto mengatakan, penyaluran kredit ini merupakan pilot project. Karena pola kemitraannya baru dan belum pernah dilakukan di BPD cabang lain. “Pola kemitraannya antara BPD Kaltim, BKP dan Pemerintah Kabupaten dengan menandatangani MoU (Memorandum of Understanding,Red) tentang pengembangan budidaya singkong melalui Program Kredit Usaha, Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK) Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujar Viky. BKP ialah PT Bintang Kaltim Perkasa, perusahaan yang memiliki pabrik tepung tapioka di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, Kukar.

Kemudian, kata Viky, dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara 3 pihak. Antara BPD Kaltim, BKP selaku investor sekaligus avalist (penjamin kredit) dan KSU Nur Hikmah sebagai penerima kredit.


Nantinya, KSU Nur Hikmah yang anggotanya memiliki 105 hektare lahan siap tanam, akan menerima plafon kredit maksimal Rp 33.500.000 per hektar. Plus Interest During Construction (IDC) Rp 4.600.000. Total fasilitas yang diterima Rp 38.100.000 per hektare, dengan jangka waktu 12 bulan.

Pembiayaan dari BPD Kaltim diberikan kepada KSU Nur Hikmah. Kemudian KSU Nur Hikmah menyerahkan ke BKP sebagai investor yang akan menggarap lahan milik petani mulai land clearing hingga panen. BKP juga yang akan membeli hasil panen tersebut. Singkong hasil panen tersebut akan diproduksi di pabrik tepung tapioka milik BKP yang terletak di Desa Loleng Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara.

Perlu diketahui, pola kemitraan ini berawal dari ide pemilik pabrik BKP Hasan Basri. Mengingat pabrik tepung tapioka memerlukan bahan baku singkong yang banyak, Hasan menilai perlu adanya tambahan lahan untuk ditanami singkong. Hasan kemudian menyampaikan idenya ini ke Dinas Pertanian dan diteruskan ke Bappeda Kutai Kartanegara. Oleh Bappeda kemudian diarahkan ke BPD Kaltim untuk pembiayaannya.

Setelah BPD Kaltim menyatakan kesanggupannya untuk menyalurkan kredit, baru dilakukan penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Penandatanganan dilakukan bersamaan dengan workshop dan sosialisasi penyaluran kredit yang digelar di Lantai I Gedung Bappeda Kukar Selasa (17/7) lalu.

Hadir sebagai pembicara, Anggota DPRRI Marwah Daud yang juga Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Hasan Basri owner BKP yang juga Ketua MSI Kaltim, Kepala Bidang Koperasi Disperindagkop Kukar Asdian, serta Viky sendiri. (jaz/lhl)

Kliping berita
Sumber : http://kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=141773




Pengembangan Bibit Singkong Gajah Skala Besar 


Bibit yang baik untuk ketela pohon (singkong) harus memenuhi persyaratan antara lain, singkong berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan), singkong harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam, batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus, dan belum tumbuh tunas-tunas baru.

Penggunaan teknologi kultur jaringan untuk pengadaan bibit singkong boleh dibilang belum ada, karena dianggap ’kurang komersil’ dan untuk pengadaan bibit tanaman singkong sangat mudah sekali yaitu melalui stek batang, sebagai stek dipilih batang yang bagian bawah sampai tengah. Namun apabila dibutuhkan bibit dalam jumlah yang sangat besar (sekala komersil) dan kontinyu penggunaan teknologi kultur jaringan akan sangat bermanfaat.

Koperasi Daun Singkong Borneo sedang melaksanakan program Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yaitu proyek ’Pengembangan Klastering Industri Agro Singkong Terpadu’ memiliki lahan seluas 120 hektar yang sudah ditanami Singkong Gajah yang memiliki produktifitas 7 kg s/d 20 kg per pohon (100 s/d 200 ton per hektar).



Koperasi Daun Singkong Borneo Bermitra Dengan MSI (Masyarakat Singkong Indonesia)

Koperasi Daun Singkong Borneo memiliki lahan seluas 300 hektar yang sudah ditanami singkong Gajah di wilayah Kota Bangun, mengaplikasikan konsep teknologi dan manajemen konservasi alam serta keleestarian lingkungan melalui konsep Organic Mixed Farming Integrated Industry yang aplikasinya teknologi mekanisasi Pengolahan Tanah dalam dan Solt Improvement dengan mineral dan organik dan teknologi yang berbasis Losses Base Management Consept.



Untuk pengembangan usaha budidaya singkong yang lebih luas koperasi yang bermitra dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah menyiapkan lahan yang tersedia seluas 5.000 hektar, terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara

Koperasi Daun Singkong Borneo menerapkan program MSI (Masyarakat Singkong Indonesia) bekerja sama dengan para petani membentuk “Sistem Cluster”. Setiap cluster dengan luas lahan 300 Ha (s/d 600 HA) terdiri dari 120 Orang anggota kelompok tani (poktan). 





No comments:

Post a Comment